Pemdes Kayutrejo: Filosofi Tumpeng Hari Jadi Ngawi Mengajarkan Kerendahan Hati dan Gotong Royong

Ngawi, presstoday.id – Pemkab Ngawi menggelar Malam Tirakatan Hari Jadi ke-668 secara terpusat di Pendopo Wedya Graha, Senin 6/7 malam. Kegiatan itu diikuti serentak hingga tingkat kecamatan dan desa melalui sambungan virtual, termasuk Pemerintah Desa Kayutrejo, Kecamatan Widodaren, yang menggelar tirakatan bersama warga di kantor desa.

Kepala Desa Kayutrejo, Moh. Mashuri, memandang tirakatan bukan sekadar agenda peringatan hari jadi daerah.

Tradisi itu menjadi ruang untuk mengenang perjalanan sejarah Ngawi sekaligus memperkuat ikatan batin masyarakat melalui doa dan nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

“Tumpeng adalah penghormatan, manifestasi spiritual dan sosial yang mengikat batin masyarakat. Tradisi ini mengajak seluruh warga mengingat perjalanan panjang Ngawi yang dibangun melalui pengorbanan para pendahulu,” ujarnya.

Menurutnya, bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta sebagai pusat doa demi keselamatan daerah.

Aneka lauk yang mengelilinginya mencerminkan keberagaman masyarakat Ngawi yang hidup rukun dalam semangat gotong royong.

Prosesi pemotongan tumpeng dari bagian puncak hingga dasar menyimpan pesan moral bagi para pemimpin.

Filosofi itu mengingatkan pentingnya kerendahan hati, kedekatan dengan masyarakat, serta pemerataan kesejahteraan hingga seluruh wilayah Ngawi.


Di tengah derasnya perkembangan zaman, malam tirakatan menghadirkan ruang perenungan.

Kesibukan sejenak dihentikan agar masyarakat dapat menoleh ke belakang, memahami sejarah daerah, lalu menyusun harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Moh. Mashuri menilai semangat menjaga “Ruh” Bumi Orek-Orek harus terus diwariskan kepada generasi muda.

Sebab, Ngawi tumbuh dari perjuangan dan kebijaksanaan para pendahulu yang layak dihormati, bukan hanya dikenang.

“Tirakat melatih kepekaan sosial. Generasi muda perlu memahami bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan kompas agar tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan zaman,” tuturnya.

Tirakatan juga mempertemukan warga tanpa memandang jabatan maupun status sosial.

Doa yang dipanjatkan bersama mencerminkan harapan agar Ngawi tetap aman, maju, dan mampu menjaga nilai kebersamaan di tengah perubahan.

Di balik peringatan Hari Jadi Ngawi ke-668, tradisi tirakatan menyisakan pesan yang relevan.

Pelestarian budaya tidak cukup berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap sejarah, penguatan gotong royong, dan tanggung jawab bersama menjaga jati diri Ngawi untuk generasi mendatang.

Chatur Maharani Putri
Tim Redaksi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*