Ngawi, presstoday.id — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Soerjo (BEM Unsoer) mengikuti aksi kolektif “Mimbar Mahasiswa” di Alun-Alun Ngawi pada Jumat sore, 6/3. Aksi yang diinisiasi Aliansi BEM Ngawi bersama PC PMII Ngawi tersebut diikuti berbagai elemen mahasiswa untuk menyuarakan isu demokrasi, kekerasan terhadap aktivis, serta perlindungan korban kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
Presiden BEM Universitas Soerjo, Dimas Aradhea Wibowo, menyampaikan orasi yang memuat lima tuntutan kepada pihak terkait.
Tuntutan tersebut mencakup penerapan regulasi pencegahan kekerasan seksual di kampus hingga penegakan hukum terhadap dugaan kekerasan terhadap aktivis.
“Perguruan tinggi di Kabupaten Ngawi perlu segera membentuk dan memperkuat Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual yang independen agar ruang kampus aman bagi mahasiswa,” ujar Dimas dalam orasinya di Mimbar Mahasiswa.

Selain itu, mahasiswa menyoroti dugaan kriminalisasi terhadap aktivis serta mendesak aparat penegak hukum bertindak transparan dan menghormati hak konstitusional warga negara.
Desakan lain menyangkut pengusutan dugaan kekerasan terhadap aktivis mahasiswa saat menyampaikan aspirasi.
“Setiap tindakan kekerasan terhadap aktivis harus diusut tuntas dan pelaku mendapatkan sanksi tegas sesuai hukum yang berlaku,” kata Dimas.
Aksi juga menyinggung peristiwa keracunan massal yang menimpa 67 santri Pondok Pesantren Al-Hijrah.
BEM Unsoer meminta pertanggungjawaban pihak penyedia layanan pemenuhan gizi terkait insiden kesehatan tersebut.
Di tengah aksi, Dimas membacakan puisi “Peringatan” karya penyair aktivis Widji Thukul. Pembacaan puisi tersebut disambut peserta aksi, terutama pada bagian penutup yang dikenal luas: “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan, maka hanya ada satu kata: lawan.”
Selain orasi, mahasiswa dari sejumlah organisasi kampus turut membacakan pernyataan sikap bersama yang mengutuk kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan serta menyerukan perlindungan hukum bagi korban tanpa intimidasi.
“Mahasiswa Universitas Soerjo tidak akan berhenti menyuarakan keadilan selama masih ada penindasan terhadap rakyat dan ruang demokrasi,” ujar Dimas.
Kegiatan Mimbar Mahasiswa ditutup dengan doa bersama bagi korban ketidakadilan, kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama sebagai bentuk solidaritas antarelemen mahasiswa di Kabupaten Ngawi.
Fatkhul Mu’anam
Tim Redaksi